Entry kali ini khas untuk buah hatiku Wan Amirul Haziq yang sangat dicintai. Sejak kelahiranmu hidup kita sentiasa bersinar. Meskipun saat kita sedang mendaki gunung yang tinggi. Meskipun saat kita menempuhi ranjau berduri. Namun dalam pencarian dan ranjau sepanjang jalan, kau memberikan sinar kepada setiap harapan.
Ingin ibu sampaikan kisah sebuah PENCARIAN.
Suatu
ketika dan di suatu daerah, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi,
datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya
gontai dan air muka yang resah. Tamu itu, memang tampak seperti orang yang tak
bahagia dan sangat berduka. Dia datang bertemu Pak Tua kerana ingin mencari kebahagiaan. Hidupnya selama ini diraakan tidak bahagia. Segalanya penuh kepahitan.
Tanpa mengharapkan
apa-apa, anak muda itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang bijak, hanya
mendengarkannya. Selesai meluahkan segalanya. Pak Tua mengambil segenggam
garam, dan meminta tamunya mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu ke dalam
gelas, lalu diaduknya perlahan. “Cubalah minum ini, dan katakan bagaimana
rasanya..”, ujar Pak tua itu.
“Masin!
Masin sekali”, jawab sang tamu, sambil meludah ke samping.
Pak Tua
itu, sedikit tersenyum, lalu mengajak tamunya ini, berjalan di tepi telaga di
dalam hutan berhampiran tempat tinggalnya. Mereka berjalan beriringan, dan
akhirnya sampailah mereka di tepi telaga yang tenang.
Pak Tua,
lalu menaburkan segenggam garam ke dalam telaga itu. Dengan sebatang kayu, mengaduk-aduk
riak air, mengusik ketenangan telaga itu.
“Cuba,
ambil air dari telaga ini, dan minumlah. Saat tamu selesai mereguk air itu, ceritalah
bagaimana rasanya?”.
“Segar.”,
sahut tamunya.
“Apakah
kamu merasakan garam di dalam air itu?”, tanya Pak Tua lagi.
“Tidak”,
Si Anak Muda.
Dengan
bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk bahu Si Anak Muda. Ia lalu mengajaknya duduk
berhadapan, bersimpuh di sisi telaga itu.
“Anak
muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah ibarat segenggam garam, tak lebih
dan tak kurang. Jumlah dan rasa masin itu adalah sama, dan memang akan tetap
sama kerana jumlah garamnya sama.
“Tapi, kemasinan
yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Sama seperti kepahitan yang kita termia dalam hidup. Jumlah kepahitan itu mungkin sama juga dengan yang diterima oleh orang lain. Kepahitan
hidup itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu
semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan
kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah
dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan
itu.”
Pak Tua
itu lalu kembali memberikan nasihat. “Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu
adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi,
jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu
meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.”
Keduanya
lalu berjalan pulang. Mereka sama-sama belajar hari itu. Pencarian kebahagiaan dalam hidup tidak akan berakhir jika kita tidak menghadapi kepahitan dengan berlapang dada. Pencarian makna hidup bergantung kepada pendirian yang kita sandarkan pada hati. Jangan kita goyah dan ragu kerana keraguan itu akan menghilangkan makna yang telah kita genggam.
Haziq, pada setiap kepayahan yang kau rasa sebenarnya ada nikmat yang akan kau temui jika kau menghadapi kepayahan itu dengan redha. Setiap kali kau persoalkan kenapa dan mengapa... semakin kau akan kehilangan jawapannya. Ibu juga turut sedih tika kau mula persoalkan setiap perbezaan yang kau terima. Percayalah... dalam hidup ini semuanya tidak setara jika kita membanding beza. Tetapi jika kita bersyukur kita akan temui nikmat yang setara pada setiap perbezaan.
Janganlah kau pandang pinggan orang lain tatkala engkau berhadapan dengan rezeki dalam pingganmu. Nikmatilah rezeki yang engkau peroleh... belum tentu apa yang ada dalam pinggan orang dapat memenuhi seleramu dan dapat mengenyangkanmu. Ibu sayang kamu sama seperti Ibu sayang adik-adikmu. Merekalah yang akan menjadi penemanmu sepanjang hayatmu... kongsikanlah cintamu pada Hafiq dan Hariq. Lapangkanlah dadamu menerima segalanya yang ditentukan Allah. Ibu yakin, kamu akan menjadi anak yang soleh, suami yang baik, pemimpin yang saksama kerana kau adalah Puteraku yang Bijaksana.
Mencari makna yang hilang....
Hidup ini ada ketikanya memberi kita suatu rasa seolah kita hilang sebuah makna. Mencari makna dalam hidup kadang kala lebih sulit dari menjalani kehidupan. Justeru kita akur bahawa hidup ini adalah PENCARIAN.
Saat kita lahir dan sedar kita miliki akal berfikir, kita mula mencari sesuatu dalam hidup. Saat itu kita bertanya apakan tujuan hidup.?Apakah Makna Hidup? Mencari makna hidup adalah ibarat mencari satu titik muktahir bagi penentu jalan seterusnya. Ibarat berada di persimpangan yang mempunyai banyak haluan. Rujukan yang benar dalam mencari titik ini adalah Al Quran.
Ajaibnya Al Quran. Kita tidak bisa mengubah walau sepotong ayatnya tetapi Al Quran boleh mengubah seluruh hidup kita.
Dalam Pencarian Makna Hidup... suatu detik kita akan redha dan mendapat kebenaran bahawa; "Hidup kita di dunia menjadi penentu hidup kita di akhirat".
HIDUP ADALAH IBADAH
Kita hanyalah hambaNya. "Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahku".
HIDUP ADALAH UJIAN
"Allah yang menjadikan hidup dan mati supaya Dia menguji kamu. Siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun" . ~Al Mulk
HIDUP INI SEMENTARA
"Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. ~ Al Mukmin
"There are no coincidences in life. What person that wandered in and out of your life was there for someone purpose, even if they caused you harm. Sometimes, it doesn't make sense the short periods of time we get with people or the outcomes from their choices. However, if you turn it over to God, he promises that you will see the big picture in the hereafter. Nothing is too small to be a mistake"
Shannon L. Alder
"Life is problems. Living is solving problems"
Raymond E. Feist, Silverthorn
YAKINLAH BAHAWA MAKNA YANG TELAH KAU GENGGAM TIDAK AKAN PERNAH HILANG... DIA ADA DALAM HATIMU. HILANG MUNGKIN KERANA BAYANGAN KERAGUANMU. CARILAH DI CELAH-CELAHNYA...


No comments:
Post a Comment